Skip to content

In memoriam, The Greatest Woman In My Life

Desember 31, 2008

foto-mamih

Lahir : 12 Juni 1933

Wafat : 31 Desember 2005

30 Desember 2005

Hari itu kesadaranmu mulai menghilang, nafasmu tinggal satu-satu.. kupeluk engkau wahai Ibu.. kubisikan betapa aku mencintaimu..betapa aku mengagumimu.. betapa engkau adalah cahayaku..
Air mata adalah jawaban yang engkau berikan.. semua orang mengatakan tidak ada harapan.. makin hancur hatiku Ibu.
Kumohon padaNya yang terbaik untukmu Ibu.. kukatakan hatiku ikhlas jika ini harimu untuk meninggalkanku
Semakin malam kondisimu semakin kritis.. pandanganmu sudah samar, apakah engkau melihat sang malaikat  Ibu ? apa yang engkau rasakan… Enakau melihatku..tapi tak ada senyum lagi..engkau melihatku seakan engkau tak mengenaliku..Duhh Ibu sakit rasanya…
kupanjatkan do’a padaNya.. ambilah beliau tanpa sakit yang pernah engkau sebutkan dalam sabdamu ya Alloh ..
Aku tak mau beranjak dari sisimu Ibu… aku tak mau melepasmu tanpa aku disisimu.
Selalu kubisikan ”la ilaha illallah ” selalu kubisikan itu ibu… aku ingin mengantar pergimu dan aku ingin mengantarmu masuk surgaNya.

31 Desember 2005

Semenjak dini hari engkau seperti memberi harapan padaku Ibu…aku merasa engkau tidak akan pergi.. air putih yang kusuapkan sedikit-sedikit engkau telan bahkan siang hari satu gelas susu aku sempat suapkan  padamu Ibu…

Aku cium, aku peluk,  aku merasa surya itu tak akan pergi… dan aku bilang padamu..engkau pandai membuatku menangis ibu..membuat setengah jiwaku hilang..ternyata engkau tidak akan pergi dari sisiku.

Tapi…

Pukul dua siang, kondisimu memburuk lagi… pandanganmu mulai kabur kembali, terkadang tertutup sesaat tapi membuka kembali.. kubisikan kembali namamu ya Rabb kubimbing engkau Ibu… ”La illaha illallah” meski suara ini sudah hilang.. mata ini sudah lelah untuk mengeluarkan air mata dan kubisikan.. aku rela Ibu.. aku ikhlas.. aku ikhlas ya Rabb..

Aku tak mau menangis karena aku takut itu memberatkanmu Ibu… aku tersenyum ibu walau dengan cucuran air mata.

14.15.. ada hembusan berat, matamu mulai tertutup..perlahan wajahmu mulai memucat dan nafas terkahir aku lihat engkau hembuskan … ”innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun , sesungguhnya kami milik Alloh dan sesungguhnya kami kembali kepadaNya”

Engkau pergi dari sisiku Ibu…

Mengambil setengah jiwaku..duhh Ibu semua penyesalan adalah kesia-siaan…

Kenapa kehilangan ini meluluh lantakan jiwaku..

Ada yang hilang.. dan aku tahu jiwaku hilang bersamamu Ibu.

Setelah engkau pergi hanya do’a yang bisa kukirimkan padamu Ibu ”

”Rabbirhamhumaa kamaa rabbayaanii shaghiiraa”
Ya Tuhanku kasihilah keduanya (ayah dan Ibu) sebagaiman kasih mereka mendidikku waktu kecil (QS. Al-Isra, 17:42)
Iklan
3 Komentar leave one →
  1. Upik permalink
    Februari 4, 2009 8:07 am

    Bunda, jujur, aku ga begitu dekat dengan Ibu, meskipun rasa sayang dihatiku tetap penuh untuk beliau. Namun kadang sikap beliau yang membedakan aku dengan adikku membuat aku sedikit [baca : menyingkir] dari mereka, meskipun saat ada masalah dan saat sedih selalu aku yang dijadikan tumpuan.. [mungkin karena aku anak sulung ya Bun..]
    Tapi bagaimanpun, kasih sayang seorang Ibu memang tidak akan pernah bisa tertandingi dan tergantikan.. Semoga itu akan selalu ada ya Bun, karena bagaimanapun juga kita sekarang telah menjadi seorang Ibu juga…
    He5x, jadi ngelantur ya.. 🙂

    Beautiful Season said :
    Piek… ambil hikmahnya, mungkin kalo dulu Upiek terlalu dimanja (diperlakukan sama) siapa tahu tidak akan sesukses sekarang, tidak akan sedewasa sekarang. Dan berbahagialah kalau jadi tumpuan, artinya orang percaya sama kita kan ?
    so.. don’t be sad, karena semua ada hikmahnya..
    dan yang paling utama, Ibu adalah segalanya. Setelah beliau pergi.. hampa dan sedihnya lama lho Pik..

  2. April 8, 2009 5:25 pm

    semoga Allah mengampuni dosa-dosanya. semoga Allah menerima semua amalan kebaikannya. dan semoga Allah menempatkan beliau di tempat terbaik di sisiNya.

    semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan karuniaNya pada kita semua, baik yang masih hidup, maupun yang telah tiada.

    Allahuma amiin.


    Amien..amien
    Terima kasih untuk do’nya.
    Semoga kebaikan selalu dicurhkan olehNya untuk Mas Hafid dan Keluarga..

Trackbacks

  1. Aku merindukanmu « Beautiful Season

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: